Selasa, 13 Oktober 2020

PERENCANAAN KARIER SEJAK DINI

 Pekerjaan (occupation, vocation, career) merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia dewasa yang sehat, di mana pun dan kapan pun mereka berada. Betapa orang akan merasa sangat susah dan gelisah jika tidak memiliki pekerjaan yang jelas, apalagi kalau sampai menjadi penganggur. Demikian pula banyak orang yang mengalami stres dan frustrasi dalam hidup ini karena masalah pekerjaan. Penelitian Levinson (dalam Isaacson, 1985) menunjukkan bahwa komponen terpenting dari kehidupan manusia dewasa adalah: (1) keluarga, dan (2) pekerjaan. Dua komponen tersebut sangat menentukan kebahagian hidup manusia, sehingga tidak mengherankan jika masalah pekerjaan dan keluarga praktis menyita seluruh perhatian, energi, dan waktu orang dewasa.

Menurut Herr dan Cramer (dalam Isaacson, 1985) pekerjaan memiliki peran yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, terutama kebutuhan ekonomis, sosial, dan psikologis. Secara ekonomis orang yang bekerja akan memperoleh penghasilan/uang yang bisa digunakan untuk membeli barang dan jasa guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Secara sosial orang yang memiliki pekerjaan akan lebih dihargai oleh masyarakat daripada orang yang menganggur.
Secara social orang yang bekerja mendapat status sosial yang lebih terhormat daripada yang tidak bekerja. Lebih jauh lagi orang yang memiliki pekerjaan secara psikologis akan meningkatkan harga diri dan kompetensi diri. Pekerjaan juga dapat menjadi wahana yang subur untuk mengaktualisasikan segala potensi yang dimiliki individu.
Pekerjaan tidak serta merta merupakan karier. Kata pekerjaan (work, job, employment) menunjuk pada setiap kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa (Isaacson, 1985); sedangkan kata karier (career) lebih menunjuk pada pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang, serta mewarnai seluruh gaya hidupnya (Winkel, 1991). Maka dari itu pemilihan karier lebih memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang dari pada kalau sekedar mendapat pekerjaan yang sifatnya sementara waktu.
Mengingat betapa pentingnya masalah karier dalam kehidupan manusia, maka sejak dini anak perlu dipersiapkan dan dibantu untuk merencanakan hari depan yang lebih cerah, dengan cara memberikan pendidikan dan bimbingan karier yang berkelanjutan.
Tahap-tahap Perkembangan Karier
Menurut Ginzberg, Ginsburg, Axelrad, dan Herma (1951) perkembangan karier dibagi menjadi 3 (tiga) tahap pokok, yaitu:
- Tahap Fantasi : 0 – 11 tahun (masa Sekolah Dasar)
- Tahap Tentatif : 12 – 18 tahun (masa Sekolah Menengah)
- Tahap Realistis : 19 – 25 tahun (masa Perguruan Tinggi)
Pada tahap fantasi anak sering kali menyebutkan cita-cita mereka kelak kalau sudah besar, misalnya ingin menjadi dokter, ingin menjadi petani, pilot pesawat, guru, tentara, dll. Mereka juga senang bermain peran (misalnya bermain dokter-dokteran, bermain jadi guru, bermain jadi polisi, dll) sesuai dengan peran-peran yang mereka lihat di lingkungan mereka. Jabatan atau pekerjaan yang mereka inginkan atau perankan pada umumnya masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya dari TV, video, majalah, atau tontonan maupun tokoh-tokoh yang pernah melintas dalam kehidupan mereka. Maka tidak mengherankan jika pekerjaan ataupun jabatan yang mereka sebut masih jauh dari pertimbangan rasional maupun moral. Mereka memang asal sebut saja pekerjaan yang dirasa menarik saat itu. Dalam hal ini orang tua dan pendidik tidak perlu cemas atau pun gelisah jika suatu ketika anak ternyata menyebut atau menginginkan pekerjaan yang jauh dari harapan orang tua atau pun pendidik. Dalam tahap ini anak belum mampu memilih jenis pekerjaan/jabatan secara rasional dan obyektif, karena mereka belum mengetahui bakat, minat, dan potensi mereka yang sebenarnya. Mereka sekedar berfantasi saja secara bebas, yang sifatnya sama sekali tidak mengikat.
Tahap tentatif dibagi menjadi 4 (empat) sub tahap, yakni: (1) sub tahap Minat (Interest); (2) sub tahap Kapasitas (Capacity); (3) sub tahap Nilai (Values) dan (4) sub tahap Transisi (Transition). Pada tahap tentatif anak mulai menyadari bahwa mereka memiliki minat dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Ada yang lebih berminat di bidang seni, sedangkan yang lain lebih berminat di bidang olah raga. Demikian juga mereka mulai sadar bahwa kemampuan mereka juga berbeda satu sama lain. Ada yang lebih mampu dalam bidang matematika, sedang yang lain dalam bidang bahasa, atau lain lagi bidang olah raga.
Pada sub tahap minat (11-12 tahun) anak cenderung malakukan pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-kegiatan hanya yang sesuai dengan minat dan kesukaan mereka saja; sedangkan pada sub tahap kapasitas/kemampuan (13-14 tahun) anak mulai melakukan pekerjaan/kegiatan didasarkan pada kemampuan masing-masing, di samping minat dan kesukaannya. Selanjutnya pada sub tahap nilai (15-16 tahun) anak sudah bisa membedakan mana kegiatan/pekerjaan yang dihargai oleh masyarakat, dan mana yang kurang dihargai; sedangkan pada sub tahap transisi (17-18 tahun) anak sudah mampu memikirkan atau "merencanakan" karier mereka berdasarkan minat, kamampuan dan nilai-nilai yang ingin diperjuangkan.
Pada usia perguruan tinggi (18 tahun ke atas) remaja memasuki tahap reasiltis, di mana mereka sudah mengenal secara lebih baik minat-minat, kemampuan, dan nilai-nilai yang ingin dikejar. Lebih lagi, mereka juga sudah lebih menyadari berbagai bidang pekerjaan dengan segala konsekuensi dan tuntutannya masing-masing. Oleh sebab itu pada tahap realistis seorang remaja sudah mampu membuat perencanaan karier secara lebih rasional dan obyektif. Tahap realistis dibagi menjadi 3 (tiga) sub-tahap, yakni sub-sub tahap (1) eksplorasi (exploration), (2) kristalisasi (chystallization), dan spesifikasi/penentuan (specification).
Pada sub tahap eksplorasi umumnya remaja mulai menerapkan pilihan-pilihan yang dipikirkan pada tahap tentatif akhir. Mereka menimbang-nimbang beberapa kemungkinan pekerjaan yang mereka anggap sesuai dengan bakat, minat, serta nilai-nilai mereka, namun mereka belum berani mengambil keputusan tentang pekerjaan mana yang paling tepat. Dalam hal ini termasuk di dalamnya masalah memilih sekolah lanjutan yang sekiranya sejalan dengan karier yang akan mereka tekuni. Pada sub tahap berikutnya, yakni tahap kristalisasi, remaja mulai merasa mantap dengan pekerjaan/karier tertentu. Berkat pergaulan yang lebih luas dan kesadaran diri yang lebih mendalam, serta pengetahuan akan dunia kerja yang lebih luas, maka remaja makin terarah pada karier tertentu meskipun belum mengambil keputusan final. Akhirnya, pada sub tahap spesifikasi remaja sudah mampu mengambil keputusan yang jelas tentang karier yang akan dipilihnya.
Dalam buku edisi revisinya Ginzberg dkk (1972) menegaskan bahwa proses pilihan karier itu terjadi sepanjang hidup manusia, artinya bahwa suatu ketika dimungkinkan orang berubah pikiran. Hal ini berarti bahwa pilihan karier tidaklah terjadi sekali saja dalam hidup manusia. Di samping itu Ginzberg juga menyadari bahwa faktor peluang/kesempatan memegang peranan yang amat penting. Meskipun seorang remaja sudah menentukan pilihan kariernya berdasar minat, bakat, dan nilai yang ia yakini, tetapi kalau peluang/kesempatan untuk bekerja pada bidang itu tertutup karena "tidak ada lowongan", maka karier yang dicita-citakan akhirnya tidak bisa terwujud.
Tokoh lain yang banyak membahas masalah perkembangan kerier adalah Donald Super. Ia menulis banyak buku yang berkaitan dengan pengembangan karier. Beberapa di antaranya adalah: The Psychology of Career (1957), dan Career and Life Development (1984). Ia juga menyusun beberapa tes untuk menilai tingkat kematangan vokasional, a.l.: Carrer Development Inventory, Career maturity Test, dan Vocational Maturity Test.
Menurut Super perkembangan karier manusia dapat dibagi menjadi 5 (lima) fase, yaitu: (1) fase pengembangan (Growth) yang meliputi masa kecil sampai usia 15 tahun. Dalam fase ini anak mengembangkan bakat-bakat, minat, kebutuhan, dan potensi, yang akhirnya dipadukan dalam struktur konsep diri (self-concept structure); (2) fase eksplorasi (exploration) antara umur 16-24 tahun, di mana saat ini remaja mulai memikirkan beberapa alternatif pekerjaan tetapi belum mengambil keputusan yang mengikat; (3) fase pemantaban (establishment), antara umur 25 – 44 tahun. Pada fase ini remaja sudah memilih karier tertentu dan mendapatkan berbagai pengalaman positif maupun negatif dari pekerjaannya. Dengan pengalaman yang diperoleh ia lalu bisa menentukan apakah ia akan terus dengan karier yang telah dijalani atau berubah haluan. (4) fase pembinaan (maintenance) antara umur 44 – 65 tahun, di mana orang sudah mantab dengan pekerjaannya dan memeliharanya agar dia bertekun sampai akhir; (5) fase kemunduran (decline), masa sesudah pensiun atau melepaskan jabatan tertentu. Dalam fase ini orang membebaskan diri dari dunia kerja formal.
Pemaparan dua tokoh di atas, Ginzberg dan Donald Super, memberi petunjuk yang jelas bagi kita bahwa karier adalah permasalahan sepanjang hidup. Maka ada pepatah yang mengatakan bahwa karier itu merupakan persoalan sejak lahir sampai mati 'from the birth unto the death' atau 'from the womb to tomb' (dari kandungan sampai kuburan). Sekarang sampailah pada persoalan pokok, yakni bagaimanakah membantu anak-anak untuk sejak dini merencanakan karier mereka di masa depan?
Program Bimbingan Karier di Sekolah Dasar
Pada tahun 1994 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, melalui Direktorat Pendidikan Dasar, telah menerbitkan buku Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan Siswa di Sekolah Dasar dalam rangka pelaksanaan Kurikulum tahun 1994. Dalam buku pedoman itu disebutkan bahwa isi layanan bimbingan di Sekolah Dasar ada tiga, yaitu: (1) bimbingan pribadi-sosial, (2) bimbingan belajar, dan (3) bimbingan karier. Jadi jelaslah bahwa secara formal dan legal program bimbingan karier harus sudah diberikan sejak usia sekolah dasar. Hal ini sangat sesuai dengan teori perkembangan karier dari Ginzberg maupun Donald Super yang telah dibahas terdahulu.
Lebih jauh dijelaskan secara rinci pada buku Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan tersebut mengenai isi bimbingan karier untuk kelas-kelas rendah (kelas 1,2, dan 3) maupun untuk kelas-kelas tinggi (kelas 4,5, dan 6) sebagai berikut:
Isi bimbingan karier untuk kelas-kelas rendah (dikutip dari Pedoman BP-SD, 1994, hal. 16-17)
a) Mengenalkan perbedaan antar kawan sebaya;
b) Menggambarkan perkembangan diri siswa;
c) Menjelaskan bahwa bekerja itu penting bagi kehidupan sesuai dengan tuntutan lingkungan;
d) Mengenalkan ketrampilan yang dimiliki siswa;
e) Menjelaskan macam-macam pekerjaan yang ada di lingkungan sekolah;
f) Menggambarkan kegiatan setelah tamat SD;
g) Mengenalkan macam-macam pekerjaan yang dilakukan orang dewasa;
h) Mengenalkan kegiatan-kegiatan yang menarik;
i) Mengenalkan alasan orang memilih suatu pekerjaan, dan bahwa pilihan itu masih dapat berubah;
j) Menjelaskan bahwa kehidupan masa depan dapat direncanakan sejak sekarang;
k) Mengenalkan bahwa seseorang dapat memiliki banyak peran;
l) Menjelaskan bahwa pekerjaan seseorang itu dipengaruhi oleh minat dan kecakapannya,
Isi bimbingan karier untuk kelas-kelas tinggi
(dikutip dari Pedoman BP-SD, 1994, hal.19-20)
a) Menjelaskan manfaat mencontoh orang-orang yang berhasil;
b) Melatih siswa menggambarkan kehidupan di masa yang akan datang;
c) Membimbing diskusi mengenai pekerjaan wanita dan pria;
d) Menjelaskan jenis-jenis ketrampilan yang dikaitkan dengan pekerjaan tertentu;
e) Melatih siswa membayangkan hal-hal yang akan dilakukan pada usia kira-kira 25 tahun kelak;
f) Membimbing siswa tentang macam-macam gaya hidup dan pengaruhnya;
g) Menjelaskan tentang pengaruh nilai yang dianut dalam pengambilan keputusan;
h) Membimbing siswa untuk memperkirakan bahwa meneladan tokoh panutan dapat mempengaruhi karier;
i) Melatih siswa merencanakan pekerjaan apa yang cocok pada masa dewasa;
j) Membimbing siswa berdiskusi tentang pengaruh pekerjaan orang terhadap kehidupan anak;
k) Melatih siswa melihat hubungan antara minat dan kemampuan;
l) Mengenalkan bermacam-macam cara untuk menilai kemajuan prestasi;
m) Mengenalkan macam-macam pekerjaan yang ada di lingkungan sekitar.
Materi bimbingan karier yang disebutkan di atas merupakan sekedar panduan. Guru setempat dapat menggunakannya sebagai acuan yang tetap terbuka untuk disesuaikan dengan situasi kondisi setempat. Sebaiknya contoh-contoh diambil dari lingkungan sekitar yang kongkrit dan mudah ditangkap oleh anak. Materi bimbingan karier sebenarnya dapat disusun sendiri asalkan mempertimbangkan fase-fase perkembangan karier seperti yang dirumuskan oleh Ginzberg dan Donald Super. Selanjutnya untuk tingkat Sekolah Menengah (SLTP dan SMU/SMK) materi bimbingan karier dapat dilihat pada buku pedoman BP untuk jenjang sekolah yang bersangkutan, atau disusun sendiri oleh guru BP yang kompeten.
Pelaksanaan Bimbingan Karier di Sekolah
Setelah memahami materi bimbingan karier yang harus diberikan di SD, maka langkah selanjutnya adalah menentukan waktu, tempat, teknik, dan sistem penilaian Bimbingan Karier.
Mengenai waktu pelaksaan bimbingan karier dapat diintegrasikan dengan jam-jam pelajaran yang sudah ada, atau pun menyediakan jam khusus untuk keperluan bimbingan karier ini. Untuk tingkat SD kiranya lebih praktis jika bimbingan karier diintegrasikan dengan jam-jam pelajaran yang tersedia. Jika cara ini yang dipilih, maka semua guru kelas dan semua guru bidang studi sekaligus menjadi guru bimbingan karier. Dalam setiap pelajaran yang diberikan, guru dapat menyelipkan berbagai macam hal yang berkaitan dengan pekerjaan/jabatan/karier anak-anak di masa mendatang, disesuaikan dengan tahap perkembangan karier anak. Kalau ada tenaga khusus untuk Bimbingan Karier, maka penyediaan jam khusus akan sangat bermanfaat.
Tempat pelaksanaan bimbingan karier dapat di mana saja, misalnya di dalam kelas, di luar ruangan, atau di tempat kerja yang sesuai dengan topik yang yang dibahas. Penentuan tempat juga bergantung pada fasilitas yang dibutuhkan. Jika dibutuhkan gambar-gambar, film, atau video, barangkali lebih cocok menggunakan ruang audio visual kalau memang ada. Atau jika ingin memperkenalkan pekerjaan di sektor industri, maka pabrik menjadi tempat yang mungkin cocok.
Teknik pelaksanaan juga dapat bermacam-macam, secara kelompok atau secara individual, tergantung dari kebutuhan dan tujuan. Dapat jiga dengan cara alih tangan (referal), artinya minta bantuan orang lain yang ahli dalam bidangnya untuk memberikan bimbingan karier. Demikian juga metode dan peralatan yang dibutuhkan disesuaikan dengan topik pembicaraan dan tingkat perkembangan anak.
Sistem evaluasi untuk bimbingan karier dapat dilaksanakan dalam berbagai cara, misalnya: (1) mengevaluasi apakah pelaksanaan Bimbingan Karier sudah sesuai dengan yang direncanakan, (2) apakah tujuan tercapai, (3) apakah terjadi perubahan dalam diri siswa, dan lain-lain.
Pekerjaan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia, maka perlu direncanakan secara matang. Program Bimbingan Karier bertujuan untuk membantu anak dalam merencanakan karier di masa mendatang, agar karier yang dipilih sungguh sesuai dengan bakat, minat, dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Jika orang memperoleh karier yang tepat, maka hidup orang akhirnya akan bahagia. Dan kebahagiaan adalah tujuan hidup semua orang. Oleh sebab itu bimbingan karier sejak usia dini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tugas pendidikan.

 

Senin, 12 Oktober 2020

ETIKA PELAJAR SAAT DI LINGKUNGAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT

 ETIKA PELAJAR SAAT DI LINGKUNGAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT


   1. Etika Pelajar saat Dilingkungan Keluarga
       Keluarga merupakan tempat utama dan pertama dalam pembentukan jati diri dan kepribadian seseorang yang berhubungan langsung dengan anggota keluarga, misalnya:
        1. Menghormati orang tua dan melaksanakan perintahnya dengan baik.
        2. menyambut ajakan orang denganwajah riang dan gembira.
        3. Menghormatiorang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda
        4. Bila diajak bicara harus memperhatikan 
        5. Minta izin pada orang tua sebelum berangkat sekolah.
        6. Mengucapkan salam bila masuk dan keluar rumah.
   2. Etika Pelajar saat Di Lingkungan Sekolah
       Dalam kehidupan sehari hari manusia dituntut untuk saling berhubungan, mengenal dan membantu satu sama lainnya. Agar tingkah laku kita disekolah diterima dan disenangi oleh teman teman kita disekolah, kita hendaknya menjaga tata krama dan sopan santun. Karena tata krama dan sopan santun adalah cerminan pribadi kita.
      Di sekolah setiap hari kita bertemu dengan guru dan teman teman, Masing-masing dari mereka memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda .
Setiap lingkungan sekolah dan setiap guru yang mengajar mempunyai ciri dan situasi yang berbeda.Ada guru tertentu suasananya sangat angker, serba ketakutan dan mudah mengantuk. Sedangkan guru lainnya sangat santai bahkan ada beberapa siswa berani menepuk punggung si guru. Tetapi apapun situasi di sekolah semua siswa harus menjaga etika secara baik dan benar. 
Bagaimana Etika Pergaulan Yang Baik Saat Di Sekolah, berikut penjelasannya :

  • Menghormati dan bersikap sopan terhadap guru. Guru adalah orang yang mendidik dan mengajarkan kepada kita berbagai ilmu pengetahuan, baik secara formal maupun nonformal. Lewat guru juga kita bisa menjadi lebih pintar dan wawasan kita luas. Begitu mulianya tugas guru, lewat guru juga membantu tugas para orang tua mengantarkan putra –putrinya mencapai masa depan yang lebih cerah. Oleh karena itu, kita harus menghormati dan menjaga sikap agar mereka tidak kecewa apalagi sampai sakit hati. Guru adalah orang tua kedua setelah orang tua kandung kita. Saat berbicara dengan guru gunakanlah bahasa yang santun dan sopan dengan mereka. Hormatilah mereka dimanapun mereka berada, baik di sekolah maupun diluar sekolah, Ucapkanlah salam seraya menyapa dengan hormat saat berpapasan dengan mereka. Apabila ada pertanyaan, bertanyalah dengan sopan ketika menemui pelajaran yang kurang di pahami.
  • Selama kita berada dilingkungan sekolah, hormatilah peraturan sekolah. Peraturan sekolah diciptakan atau dibuat agar suasana yang tentram dan tertib agar pelaksanaan pendidikan di sekolah dan semua programnya berjalan dengan baik, dan semua pihak wajib mematuhinya. Apabila ada peraturan yang memberatkan, bentuklah perwakilan siswa, dan dimusyawarahkan dengan pihak sekolah tanpa melakukan hal yang negatif dan merusak.
  • Bergaullah dengan semua teman, dengan tidak membeda bedakan status teman seperti kaya, miskin, agama dan suku tertentu.
  • Sebagai pelajar yang baik harus bersemangat dalam menuntut ilmu, karena dengan ilmu pengetahuan, hidup seseorang akan lebih bermartabat. Belajar dan Mencari ilmu pengetahuan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan bagi setiap umat islam, baik laki-laki maupun perempuan,muda maupun tua. Sebagaimana dalam firman Alloh SWT yang artinya, "…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…"(QS. Al-Mujadilah: 11). Oleh karena itu Kewajiban seorang siswa adalah belajar dengan sebaik-baiknya dan terus berusaha untuk memiliki prestasi. Dengan bersemangat belajar pasti akan tercapai cita-citanya.
  • Jadikanlah teman kita sebagai mitra kita dalam menuntut ilmu pengetahuan. Bekerja samalah dengan mereka dalam hal kebaikan serta berlomba dalam mencapai prestasi. Saat kita di sekolah, kita selalu bertemu dengan teman teman kita, masing-masing dari mereka memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda. Apapun kondisi dan keadaan mereka, mereka tetap teman kita semua. Dalam bergaul dengan mereka juga kita harus pandai memilah, mana teman yang akan membawa kita ke hal hal yang positif dan mana teman yang akan membawa kita ke hal hal yang negatif. Kita harus bisa mengontrol diri agar tidak terseret mengikuti mereka yang tidak baik. Adapun dengan teman yang rajin, patuh, dan berprestasi, kita harus mencontohnya agar bisa berlomba dalam hal kebaikan denganya. Berusahalah bersikap jujur dalam segala hal, seperti tidak menyontek ketika ada ujian, dan membolos. Jadilah siswa yang jujur dan berprestasi.
  • Jangan bersikap sombong dan sok tahu diantara teman teman, bersikaplah rendah hati, janganlah berbohong dan dapat dipercaya oleh guru dan teman. Janganlah meremehkan teman di depan teman lainnya.
  • Apabila kalian berdebat dengan teman, janganlah ingin menang sendiri, hargailah pendapat orang lain.
  • Harus peduli dan berani membela teman yang sedang kesusahan, kesulitan dan tertindas teman lainnya. Bila ada teman yang kesulitan tanpa diminta harus segera menolong. Bila ada teman yang berbuat tidak baik dan mengancam teman sekelas harus berani menegur dengan sopan dan baik, dan apabila tidak bisa diingatkan dengan baik sebaiknya diberitahukan pada ketua kelas atau wali kelas.
  • Berpakaianlah yang rapi dan bersih dan tidak berbau. Dan janganlah memakai perhiasan yang berlebih, gantilah kaos kaki dan baju setiap hari agar terhindar dari bau tidak sedap kepada teman di sekitar kamu...gunakanlah pakaian yang pantas dan sesuai keadaan dan harus yang menutup aurat.
  • Sebagai siswa kita tidak hanya dituntut pandai di bidang akademis saja tetapi juga harus mampu membina hubungan yang baik dan harmonis dengan guru, siswa dan karyawan, sehingga suasana di sekolah tercipta suasana yang menyenangkan.
   3. Etika pelajar di dalam kelas
  • Didalam kelas sebaiknya bersikap duduk yang sopan duduk tegak, dan tidak merebahkan kepala di meja, jangan mengangkat kaki di atas kursi atau meja meskipun dalam keadaan istirahat
  • Jaga kebersihan diri sendiri, hindari bau badan yang bisa menganggu teman di sekitar, cobalah selalu mandi dengan baik dan bersih. bila itupun tidak membantu sebaiknya harus dibantu dengan deodoran.
  • Jangan memakai wangi parfum yang berlebihan
  • Jangan pernah sekalipun meludah di lantai sekolah apalagi di kelas
  • Jagalah bila ada posisi baju kamu yang tidak benar terutama anak perempuan
  • Jangan berbicara yang tidak perlu bila guru sedang menerangkan pelajaran, bila sedang tidak berkonsentrasi buatlah corat coret di kertas tentang pelajaran. bila itu juga tidak bisa berkonsentrasi buatlah gambar dari pelajaran yang sedang kamu hadapi.
  • Jangan tertawa dan berteriak berlebihan dan keras bila di dalam kelas
  • Jaga kebersihan kelas, jangan membuang sampah sembarangan
  • Jangan terlalu sering meminjam peralatan tulis kepada teman , kecuali bila perlu sekali atau karena tertinggal. Bila meminjam alat tulis, buku atau apapun kepada teman harus segera dikembalikan.
   4. Etika berkomunikasi dengan guru dan teman di sekolah
  • Berbicaralah yang jelas dimengerti baik dalam hal volume suara atau kejelasan kata uyang terucap, jangan terburu buru dalam berkomunikasi
  • Menatap mata lawan bicara dengan lembut
  • Memberikan ekspresi wajah yang ramah dan murah senyum
  • Gunakan gerakan tubuh yang sopan dan wajar
  • Jujur tidak berbohong
  • Bersikap Dewasa tidak kekanak-kanakan
  • Menggunakan panggilan / sebutan orang yang baik
  • Menggunakan pesan bahasa yang efektif dan efisien
  • Tidak mudah emosi / emosional
  • Berinisiatif sebagai pembuka dialog
  • Berbahasa yang baik, ramah dan sopan
  • Menggunakan pakaian yang pantas sesuai keadaan
  • Bertingkahlaku yang baik
  • Ucapkan salam selamat malam, apa kabar, bagaimana keadaannya hari ini
  • Menggunakan kata dan kalimat yang baik menyesuaikan dengan lingkungan
  • Gunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh lawan bicara
  • Bertingkah laku yang baik dan ramah terhadap lawan bicara
  • Memakai pakaian yang rapi, menutup aurat dan sesuai sikon
  • Tidak mudah terpancing emosi lawan bicara
  • Menerima segala perbedaan pendapat atau perselisihan yang terjadi
  • Mampu menempatkan diri dan menyesuaikan gaya komunikasi sesuai dengan karakteristik lawan bicara.
  • Menggunakan volume, nada, intonasi suara serta kecepatan bicara yang baik.
  • Jangan sering memotong pembicaraan orang lain.
  • Jangan mendominasi pembicaraan gunakan komunikasi 2 arah yang seimbang kecuali dalam keadaan tertentu.
  • Bila mengakhiri percakapan ucapkan salam selamat pagi, sampai ketemu lagi, sukses selalu, salam untuk keluarga di rumah dan lain sebagainya .
   5. Etika Pelajar saat Di Lingkungan Masyarakat
       Alat komunikasi paling utama dalam pergaulan adalah berbicara, dengan bicara kita dapat menyampaikan sesuatu, sebaliknya kita juga dapat mengetahui keinginan orang lain. Berbicara bisa mendatangkan banyak orang (teman) dan bisa pula mendatangkan musuh, maka dari itu kita harus pandai-pandai menjaga cara berbicara kita dengan baik. Agama Islammengajarkan agar kita berbicara sopan supaya tidak berakibat merugikan diri sendiri ataupun orang lain.
            Mulut dapat kita gunakan sebagai nasehat akan kebenaran hindarilah cara bicara yang bisa menimbulkan perselisihan karena perselisihan itu kehendak setan yang ditujukan untuk mengadu domba, fitnah, isu dan gosip. 

Kamis, 08 Oktober 2020

SAPAAN DAN MOTIVASI

Kamis, 08 Oktober 2020 

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Apa kabarnya anak-anakku pada hari ini semoga kalian semua diberikan kesehatan untuk terus mengistiqomahkan diri dalam beribadah baik sunnah apalagi yang wajib, Aamiin

Bapak ingat kan jangan lupa mengisi agenda kegiatan ibadah hariannya ( MUTHABA'AH ), dan Menyetor hafalan tahfidznya, Semoga kalian dan kita semua diberikan kelapangan waktu, diberikan kelancaran dan kemudahan dalam menghafal. Aamiin

Rabu, 30 September 2020

Mencapai Pola Hubungan Yang Baik Antara Teman Sebaya

 

Pola Hubungan Yang Baik Dengan Teman Sebaya


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,teman sebaya diartikan sebagai kawan,sahabat atau orang yang sama-sama bekerja atau berbuat.Menurut Santrock (2007),kawan-kawan sebaya adalah anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat kematangan yang kurang lebih sama.Dari pengertian dia atas dapat disimpulkan pengertian teman sebaya adalah hubungan individu pada anak-anak atau remaja dengan tingkat usia yang sama serta melibatkan keakraban yang relatif besar dalam kelompoknya.

Pertemanan adalah suatu tingkah laku yang di hasilkan dari dua orang atau lebih yang saling mendukung.Pertemanan dapat diartikan pula sebagai hubungan antara dua orang atau lebih yang memiliki unsur-unsur seperti kecenderungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain,simpati,empati,kejujuran dalam bersikap,dan saling pengertian (irwan kawi,2010).

Dengan berteman,seseorang dapat merasa lebih aman karena secara tidak langsung seorang teman akan melindungi temannya dari apapun yang dapat membahayakan temannya.Selain itu,sebuah pertemanan dapat dijadikan sebagai adanya hubungan saling berbagi dalam suka maupun duka,saling memberi dengan ikhlas,salingb percaya,saling menghormati,dan saling menghargai.

Remaja lebih banyak berada diluar rumah bersama dengan teman sebayanya.Jadi dapat dimengerti bahwa sikap,pembicaraan,minat,penampilan,dan perilaku teman sebaya lebih besar pengaruhnya daripada keluarga.Didalam kelompok sebaya,remaja berusaha menemukan konsep dirinya.Disini ia dinilai oleh teman sebayanya tanpa memperdulikan sanksi-sanksi dunia dewasa.

Kelompok sebaya memberikan lingkungan yaitu dunia tempat remaja melakukan sosialisasi dimana nilai yang berlaku bukanlah nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa,melainkan oleh teman seusianya (Depkes,2012)
Remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan terima kawan sebaya atau kelompok.Sebagai akibatnya,mereka akan merasa senang apabila diterima dan sebaliknya akan merasa sangat tertekan dan cemas apabila dikeluarkan dan diremehkan oleh kawan sebayanya.Bagi remaja,pandangan kawan-kawan terhadap dirinya merupakan hal yang paling penting.

Santrock (2007:55) mengemukakan bahwa salah satu fungsi terpenting dari kelompok teman sebaya adalah sebagai sumber informasi mengenai dunia diluar keluarga,memperoleh umpan balik mengenai kemampuannya dari kelompok teman sebaya,mempelajari bahwa apa yang mereka lakukan itu lebih baik dibandingkan remaja-remaja lainnya.

Mempelajari hal-hal tersebut dirumah tidaklah mudah dilakukan karena saudara kandung biasanya lebih tua atau lebih muda.Maka dari itu sebagian besar interaksi dengan teman-teman sebaya berlangsung diluar rumah ,lebih banyak berlangsung ditempat yang memiliki privasi dibandingkan ditempat umum,dan lebih banyak berlangsung diantara anak dengan jenis kelamin sama dibandingkan dengan jenis kelamin berbeda.

Teman sebaya sebagai lingkungan sosial bagi remaja mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan kepribadiannya.Teman sebaya memberikan sebuah dunia tempat para remaja melakukan sosialisasi dalam suasana yang mereka ciptakan sendiri.Disinilah anak dituntut untuk memiliki kemampuan baru dalam menyesuaikan diri dan dapat dijadikan dasar dalam interaksi sosial yang lebih besar.

Keluarga yang memberikan kehangatan serta ikatan emosi dalam kadar yang tidak berlebihan dan senantiasa memberikan dukungan positif dapat membantu anak mengembangkan ikatan lain diluar keluarga secara lebih baik.

Selasa, 29 September 2020

Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Peserta Didik

 

Sistem pendidikan konvensional
Karakteristik pendidikan konvensional

  • Pengajar dan peserta didik berada dalam ruang yang sama pada waktu yang sama untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar.
  • Kegiatan belajar-mengajar dilakukan dalam bentuk pertemuan tatap muka.
  • Pengajar menentukan tujuan belajar, materi ajar, dan evaluasi proses belajar dari peserta didiknya.
  • Proses komunikasi antara pengajar dan peserta didik dilakukan secara langsung atau bersifat analog.
  • Menitikberatkan pada peran pengajar sebagai sumber informasi dan dalam pengelolaan kelas selama proses belajar-mengajar berlangsung.[8]
Teknologi komunikasi dalam pendidikan konvensional
Keunggulan dan kelemahan pendidikan konvensional
  • Tingginya tingkat interaksi langsung antara pengajar dan peserta didik yang akan mempercepat terbentuknya relasi dan nilai-nilai dalam proses belajar-mengajar.[9]
  • Pertemuan tatap muka antara pengajar dan peserta didik mendukung terselenggaranya proses belajar-mengajar yang terfokus dan terkontrol sehingga pembelajaran dapat dioptimalkan.[10]
  • Kebergantungan kepada lokasi, tempat, dan kehadiran dari para peserta proses belajar-mengajar baik pengajar maupun peserta didik.
  • Biaya pendidikan relatif tinggi sebagai akibat dari timbulnya berbagai biaya untuk menunjang operasional sehari-hari pada lembaga penyelenggara pendidikan konvensional.
Sistem pendidikan jarak jauh
  • Akses, yakni terkait dengan keinginan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan melalui penyelenggaraan pendidikan yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi, bersifat massal, ekonomis, serta meminimalkan kendala jarak dan waktu.
  • Pemerataan yang merujuk kepada asas keadilan dan persamaan hak bagi siapa saja untuk mengenyam pendidikan tanpa dibatasi oleh berbagai kendala.
  • Kualitas, yaitu berkenaan dengan jaminan standar pengajar, materi bahan ajar dan ujian, dan proses pembelajaran interaktif yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi.
Karakteristik pendidikan jarak jauh
  • Pengajar dan peserta didik tidak berada dalam satu ruang yang sama saat proses belajar-mengajar berlangsung.
  • Penyampaian materi ajar dan proses pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan media komunikasi dan informasi.
  • Menekankan pada cara belajar mandiri namun ada lembaga yang mengaturnya.
  • Keterbatasan pada pertemuan tatap muka. Biasanya pertemuan tatap muka dilakukan secara periodik antara peserta didik dengan pengajar atau tutor.
  • Fleksibilitas dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain masing-masing peserta didik dapat mengatur waktu belajarnya sendiri sesuai dengan ketersediaan waktu dan kesiapannya.
Teknologi komunikasi dalam pendidikan jarak jauh
Keunggulan dan kelemahan pendidikan jarak jauh
  • Proses pembelajaran dapat dilakukan tanpa dibatasi oleh keharusan pengajar dan peserta didik untuk berada di ruang dan waktu yang sama.
  • Penggunaan teknologi komunikasi dan informasi sebagai media pembelajaran menimbulkan biaya yang lebih rendah baik bagi penyelenggara pendidikan jarak jauh maupun peserta didik.
  • Materi ajar dan berbagai interaksi dalam bentuk tulisan yang dikemas secara digital memungkinkan peserta didik untuk dapat membaca kembali berulang-ulang informasi yang tercatat di dalamnya.
  • Minimnya kontak langsung antara pengajar dan peserta didik memperlambat proses terbangunnya relasi sosial dan nilai-nilai yang menjadi tujuan dasar dari pendidikan.
  • Rendahnya kontrol terhadap proses pembelajaran sebagai impikasi dari cara belajar mandiri yang menjadi titik berat dari pendidikan jarak jauh.
  • Keterbatasan teknologi komunikasi dan informasi yang tidak dapat menggantikan sepenuhnya proses komunikasi dan interaksi secara langsung yang terjadi dalam pendidikan konvensional.
Demografi Indonesia
Kondisi geografis Indonesia
Perkembangan pendidikan tinggi jarak jauh di Indonesia[sunting | sunting sumber]
Perguruan tinggi di Indonesia
Angka partisipasi perguruan tinggi
Penyelenggara pendidikan tinggi jarak jauh
Masa depan pendidikan jarak jauh
Ramalan masa depan pendidikan jarak jauh dalam metode Delfi
Masa depan pendidikan jarak jauh di Indonesia
  • Undang-undang (UU) nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi
  • UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
  • Peraturan pemerintah (PP) nomor 17 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan
  • Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (Permendikbud) nomor 109 tahun 2013 tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada pendidikan tinggi
  • Permendikbud nomor 20 tahun 2011 tentang penyelenggaraan program studi di luar domisili perguruan tinggi

Pendidikan merupakan suatu proses akademis yang bertujuan untuk meningkatkan nilai-nilai moral, sosial, budaya dan agama sekaligus mempersiapkan peserta didik untuk mampu menghadapi berbagai tantangan dalam proses kehidupan. Dalam pendidikan terjadi proses komunikasi yang terorganisasi dan berkelanjutan untuk menumbuhkan aktivitas belajar dalam diri pembelajar sehingga pembelajar dapat mengembangkan kemampuannya dalam menemukan, mengolah, dan mengevaluasi berbagai informasi dan pengetahuan untuk kemudian berkontribusi dalam pencarian solusi atas masalah yang ada dan berpartisipasi aktif di masyarakat.[5] Dalam sistem pendidikan konvensional, metode yang digunakan adalah melalui pertemuan tatap muka antara pengajar dan peserta didik. Dengan kata lain, pengajar dan pembelajar berada di ruang yang sama pada waktu yang bersamaan juga untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi.

Pendidikan konvensional adalah pendidikan formal yang menggunakan sistem klasikal dalam menyampaikan materi ajar baik di sekolah, akademi, universitas, dan sejenisnya.[6] Beberapa karakteristik dasar dari sistem pendidikan konvensional antara lain:[7]

Dalam sistem pendidikan konvensional, teknologi komunikasi yang digunakan untuk mendukung proses belajar-mengajar mencakup baik teknologi analog maupun teknologi digital dengan titik berat pada proses penyampaian informasi secara analog. Teknologi analog merujuk kepada segala bentuk teknologi yang dibuat untuk menyerupai bentuk asli dan yang dapat ditangkap oleh pancaindra manusia, sedangkan teknologi digital merupakan teknologi berbasis komputerisasi yang basis datanya terdiri dari bilangan nol dan satu.[4]

Proses komunikasi yang berlangsung dalam pertemuan tatap muka menekankan pada interaksi dan relasi sosial yang terbangun di antara pengajar dan peserta didik. Pengajar menyampaikan materi ajar kepada peserta didik secara langsung dengan berbagai ekspresi dan gerakan (gesture) yang mendukungnya, dan peserta didik dapat memberikan tanggapan serta mengekspresikan diri secara langsung juga. Teknologi komunikasi penunjang yang biasanya digunakan dalam pendidikan konvensional mencakup antara lain kertas, buku, papan tulis, spidol, televisi, radio, alat peraga, komputer, proyektor, dan lain-lain.

Keunggulan dari metode pendidikan konvensional antara lain:

Kelemahan dari metode pendidikan konvensional antara lain:

Pendidikan jarak jauh adalah suatu kajian kependidikan yang terus berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Karena itu juga pendidikan jarak jauh sering dipersepsikan sebagai suatu inovasi dalam metode pembelajaran abad 21 yang memiliki daya jangkau lintas ruang, waktu, dan sosioekonomi. Dengan adanya inovasi ini, masyarakat memiliki pilihan alternatif untuk mengakses pendidikan. Secara umum, pendidikan jarak jauh memiliki prinsip yang mencakup antara lain:[11]

Pendidikan jarak jauh memiliki beberapa karakteristik dasar, yaitu:[7]

Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh tidak dapat dilepaskan dari penggunaan teknologi. Hal ini dikarenakan dalam pendidikan jarak jauh tidak terjadi kontak secara langsung antara pengajar dan peserta didik. Proses komunikasi antara keduanya dilakukan melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi. Walau demikian, pertemuan tatap muka tetap dapat dilakukan dengan frekuensi yang terbatas. Teknologi komunikasi dan informasi yang banyak digunakan dalam pendidikan jarak jauh adalah komputer dan internet.

Pemanfaatan komputer dan internet memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mengakses materi-materi ajar yang juga sudah dikemas dalam bentuk digital di mana pun dan kapan pun. Dengan menggunakan komputer dan internet juga, pengajar dan peserta didik dapat melakukan interaksi baik menggunakan aplikasi surat elektronik, video konferensi, atau forum diskusi dalam jaringan.[12] Meski penggunaan berbagai teknologi digital dalam pendidikan jarak jauh membuat batas-batas geografis seakan lenyap, namun proses komunikasi yang dimediasi oleh komputer dan internet memiliki keterbatasan dalam menangkap ekspresi dan gerakan (gesture) dari pengajar dan peserta didik. Teknologi komunikasi pendukung lainnya yang digunakan untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh antara lain buku elektronik, compact disc (CD) atau digital versatile disc (DVD) untuk rekaman audio dan video, perangkat pengolah informasi seperti tablet atau laptop.

Keunggulan dari metode pendidikan jarak jauh antara lain:

Kelemahan dari metode pendidikan jarak jauh antara lain:

Jumlah penduduk Indonesia berkisar 250 juta jiwa dan membuat Indonesia menjadi negara dengan kepadatan penduduk terbesar keempat di dunia. Menurut estimasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), populasi penduduk Indonesia akan terus meningkat dan akan mencapai 290 juta jiwa pada tahun 2045. Dengan laju pertambahan penduduk Indonesia setiap tahunnya berada di angka 2.5 persen juga akan terus menambah jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64) di masa mendatang. Struktur usia yang mendominasi komposisi penduduk Indonesia adalah kelompok usia produktif dengan rata-rata usia penduduknya adalah 28.2 tahun pada tahun 2011. Angka tersebut merupakan median age yang berarti setengah dari populasi Indonesia berada pada usia 28.2 tahun lebih dan separuhnya lagi berusia di bawah 28.2 tahun. Kelompok usia muda akan dapat menjadi pilar kekuatan kerja Indonesia dengan kondisi bahwa kelompok usia tersebut mendapatkan pendidikan yang baik dan kesempatan kerja yang memadai juga.[13]

Sebagai negara kepulauan, Indonesia terdiri dari 13.487 pulau dengan 6000 di antaranya masih tidak berpenghuni. Setengah dari penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 250 juta jiwa memilih untuk tinggal di pulau Jawa walau luas pulau Jawa hanya 6,9 persen dari total 37 persen luas daratan di Indonesia. Besarnya kepulauan di Indonesia yang disertai dengan pembangunan yang belum merata mengakibatkan tidak meratanya juga infrastruktur dan fasilitas di berbagai bidang termasuk pendidikan. Keterbatasan jumlah perguruan tinggi di suatu pulau kerap mendorong sebagian penduduk memilih untuk mengenyam pendidikan tinggi di pulau lainnya. Implikasi yang timbul dari pilihan tersebut adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan bukan hanya untuk pendidikan yang akan ditempuh, melainkan juga untuk biaya hidup lainnya.

Metode pendidikan secara tatap muka dikenal sebagai model utama pendidikan. Namun demikian, pendidikan jarak jauh juga sudah lama berkembang khususnya dengan peserta didik usia dewasa. Di Indonesia, pembelajaran jarak jauh (distance learning) adalah bagian dari pendidikan jarak jauh (distance education) yang telah diatur dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 terkait sistem pendidikan nasional.

Berdasarkan data DIKTI dan Kemendikbud, jumlah lembaga perguruan tinggi di Indonesia adalah 4.273, sementara jumlah siswa lulusan SMA dan SMK pada tahun 2014 adalah 2.804.664.[14][15] Lembaga perguruan tinggi di Indonesia memiliki daya tampung yang terbatas untuk menyerap siswa lulusan SMA dan SMK, yaitu hanya sekitar 50 persen saja. Akumulasi siswa lulusan SMA dan SMK yang tidak terserap akan terus meningkat setiap tahunnya jika daya tampung lembaga perguruan tinggi tidak ditingkatkan dan kendala keterbatasan finansial bagi sebagian penduduk belum teratasi. Berbagai strategi diupayakan untuk meningkatkan daya tampung perguruan tinggi melalui penambahan perguruan tinggi maupun pengembangan sistem pendidikan jarak jauh untuk memperluas akses pendidikan tinggi di Indonesia.

Angka partisipasi kasar (APK) adalah perbandingan jumlah peserta didik di jenjang tertentu dengan jumlah penduduk dalam kelompok umur yang sesuai. APK perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2014 hanya mencapai 30 persen. Yang termasuk dalam kategori APK ini adalah jumlah penduduk berusia 19-23 tahun yang sudah mengenyam pendidikan tinggi. Meski APK perguruan tinggi di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun, tetapi persentasenya masih terbilang rendah. APK perguruan tinggi Indonesia berada di bawah Malaysia, yaitu 60 persen dan Korea Selatan, yakni 90 persen. APK perguruan tinggi Indonesia diperkirakan akan meningkat signifikan ke angka 60-70 persen pada tahun 2045.[15] Dengan dikembangkannya sistem pendidikan jarak jauh yang tidak dibatasi jarak geografis dan dengan biaya yang relatif lebih rendah diharapkan akan meningkatkan layanan pendidikan bagi kelompok penduduk yang tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional secara tatap muka.

Penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di Indonesia pada mulanya hanya terbatas pada Universitas Terbuka yang menyediakan layanan pendidikan tanpa mengharuskan pengajar dan peserta didik untuk berada dalam ruang yang sama guna mengikuti proses belajar-mengajar. Seiring dengan upaya perluasan akses pendidikan tinggi di Indonesia, pemerintah Indonesia memberikan terobosan dengan mengizinkan perguruan tinggi lainnya untuk mengembangkan dan menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dengan kriteria dan persyaratan yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 24 tahun 2012 tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh pada perguruan tinggi. Dengan dikeluarkannya kebijakan ini, lembaga-lembaga yang semula hanya menyelenggarakan pendidikan konvensional mulai mengembangkan program pendidikan jarak jauh.

Beberapa lembaga perguruan tinggi di Indonesia yang telah memiliki program pendidikan jarak jauh antara lain:

Seiring kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang terus berkembang, metode pendidikan bermediasikan komputer dan internet khususnya, tidak lagi dianggap sebagai suatu teknologi eksperimental karena pendidikan tinggi perlu mempertimbangkan pertumbuhan peserta didik di era serba digital dan berbasis pengetahuan yang kompetitif ini. Pendidikan jarak jauh dapat melayani lebih banyak peserta didik sehingga diperkirakan sistem pendidikan ini akan terus berkembang di banyak lembaga pendidikan tinggi. Keberhasilannya akan turut ditentukan bukan hanya oleh ketersediaan teknologi komunikasi dan informasi, melainkan juga oleh kualitas materi ajar, pengajar, peserta didik, metode pedagogi, interaksi yang dapat diakomodir, dan sistem pendukung lainnya yang dibangun oleh penyelenggara pendidikan jarak jauh.[16]

Terlepas dari teknologi digital dapat mengatasi kendala jarak geografis dalam rangka terselenggaranya proses belajar-mengajar, namun ada komunikasi yang tidak dapat digantikan oleh penggunaan teknologi digital. Ada jenis komunikasi yang tetap mengharuskan komunikator dan komunikan duduk di ruangan yang sama dan berinteraksi satu sama lain. Bahkan teknologi layar video definisi tinggi atau hologram tiga dimensi tidak akan dapat menggantikan sepenuhnya komunikasi konvensional secara tatap muka. Dengan kata lain, pertemuan langsung tetap diperlukan dalam kondisi-kondisi tertentu, termasuk dalam proses belajar-mengajar. Itulah sebabnya metode pendidikan jarak jauh tidak akan menggantikan pembelajaran maupun komunikasi langsung dan secara pribadi. Pendidikan jarak jauh akan meningkatkan sistem pendidikan konvensional, namun tidak akan menghilangkannya.[17]

Dalam upaya untuk mengidentifikasi dan memprediksi tren yang akan muncul dalam suatu lingkungan tertentu, para perencana organisasi biasanya melihat sejumlah alat strategi pembangunan termasuk metode Delfi untuk membantu organisasi dalam memutuskan dan membuat perencanaan. Metode Delfi dipandang baik digunakan sebagai alat peramalan masa depan yang berguna untuk mengetahui masalah yang menjadi fokus riset para ahli di bidangnya, bukan sekadar fokus dari populasi masyarakat pada umumnya. Metode Delfi dibentuk untuk mencari tahu konsensus umum para ahli tentang suatu isu di masa depan. Karena metode Delfi memberikan gambaran yang cukup jelas tentang ke mana organisasi akan mengarah dan apa yang mungkin dilakukan di masa depan, metode ini sangat berguna dalam perencanaan skenario, termasuk dalam bidang pendidikan tinggi dan pendaftaran peserta didik.[18]

Salah satu hasil penelusuran pandangan dan opini para ahli dalam bidang pendidikan jarak jauh dikemukakan oleh Noa Aharony dan Jenny Bronstein dari Universitas Bar-Ilan. Dalam tulisannya yang berjudul “Sebuah Investigasi Delfi terkait Masa Depan Pendidikan Jarak Jauh” (A Delphi Investigation into the Future of Distance Education) diperoleh informasi bahwa dari 35 ahli yang diminta untuk menilai 16 pernyataan sesuai dengan apa yang mereka pikir mungkin akan terjadi (probabilitas) dan apa yang mereka ingin lihat terjadi (keinginan), temuan menunjukkan mayoritas ahli meramalkan bahwa penggunaan teknologi baru akan mengubah teori dan metodologi pendidikan konvensional. Hal ini akan berdampak pada keterampilan dan upaya para pengajar, umpan balik, interaksi dan proses penilaian pembelajaran. Namun terkait masa depan pendidikan jarak jauh, para ahli melihat terlepas dari adanya kecenderungan penyediaan layanan pendidikan jarak jauh formal secara penuh di masa depan, tetapi para ahli ragu bahwa pendidikan jarak jauh akan sepenuhnya menggantikan pendidikan konvensional. Selain itu, para ahli juga melihat peran teknologi seluler dan jejaring sosial sebagai fasilitator dalam proses berbagi informasi dalam sistem pendidikan jarak jauh yang menciptakan suasana kerjasama dan interaksi yang mudah di antara pengguna. Para ahli berpandangan bahwa asimilasi teknologi seluler dan jejaring sosial akan mempengaruhi metode pendidikan jarak jauh dan pedagogi.[19]

Rendahnya angka partisipasi perguruan tinggi di Indonesia yang merupakan implikasi dari keterbatasan daya tampung perguruan tinggi dan faktor kemampuan finansial yang tidak merata mendorong pemerintah Indonesia mengupayakan perluasan akses pendidikan bagi kelompok masyarakat di berbagai wilayah. Pendidikan jarak jauh dipandang sebagai salah satu solusi yang memungkinkan untuk meningkatkan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi di Indonesia. Sistem pendidikan jarak jauh memiliki fleksibilitas yang tinggi, daya jangkau yang luas, dan lebih terjangkau daripada pendidikan konvensional. Keseriusan pemerintah Indonesia dalam mengembangkan pendidikan jarak jauh sebagai bagian dari sistem pendidikan di Indonesia ditunjukkan dengan dikeluarkannya berbagai produk hukum yang ikut mengatur pendidikan jarak jauh, antara lain:

Upaya untuk meningkatkan pemerataan akses pendidikan tinggi di Indonesia juga direspon baik oleh para penyelenggara pendidikan konvensional. Beberapa penyelenggara pendidikan konvensional mulai turut mengembangkan sistem pendidikan jarak jauh ini. Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pendidikan jarak jauh di Indonesia adalah kesiapan infrastruktur teknologi komunikasi dan informasi, khususnya ketersediaan koneksi internet. Meski konektivitas jaringan internet di berbagai wilayah Indonesia sudah cukup baik, namun masih ada wilayah-wilayah yang masih belum dapat terhubung dengan internet. Pemerintah Indonesia berusaha menyiasatinya melalui program pengadaan satelit yang ditargetkan akan selesai dan dapat digunakan pada tahun 2016.

Penyelenggaran pendidikan jarak jauh di Indonesia tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem pendidikan konvensional secara tatap muka karena tujuan penyelenggaraanya adalah untuk memberikan layanan pendidikan tinggi kepada masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka dan memperluas akses serta mempermudah layanan pendidikan tinggi sebagaimana termaktub dalam Permendikbud nomor 109 tahun 2013